BlankWhite

Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK)

Oleh : dr. Rina Anggriany, Sp.P (Dokter Spesialist Paru)

   Data World Health Organization (WHO) tahun 2022 menyebutkan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) menjadi penyebab kematian ketiga di dunia, 3.23 juta kematian pada tahun 2019. Lebih dari 90% pasien yang meninggal adalah usia kurang dari 70 tahun pada negara dengan penghasilan rendah- menengah. PPOK merupakan penyakit paru kronis yang dapat dicegah dan diobati, biasanya ditemukan pada usia > 40 tahun, pria maupun wanita.
      Paparan asap rokok nerupakan faktor utama terjadinya PPOK. Namun polusi udara baik udara di luar atapun di dalam ruangan, debu, iritan, uap bahan kimia dari tempat kerja juga dapat menjadi faktor risiko PPOK. Selain paparan partikel maupun gas berbahaya dalam waktu lama, penyebab lain PPOK adalah faktor individu, misalnya faktor genetik dan kondisi yang mempengaruhi pertumbuhan paru pada masa kanak-kanak.
    Kerusakan saluran napas kecil pada paru mengakibatkan terhambatnya aliran udara masuk dan keluar paru-paru. Kerusakan bagian paru, sumbatan jalan napas oleh dahak, radang serta bengkak pada saluran napas menyebabkan penyempitan jalan napas sehingga menimbulkan gejala respirasi. PPOK biasa juga disebut emfisema atau bronchitis kronik. Emfisema bisa terjadi akibat kerusakan kantung udara kecil paru, sedangkan bronchitis kronik terjadi akibat radang pada saluran napas yang mengakibatkan peningkatan produksi dahak sehingga terjadi batuk yang merupakan respon tubuh untuk mengeluarkan dahak tersebut.
     PPOK dan asma merupakan penyakit paru yang umum dan memiliki gejala yang sama; yaitu sesak, mengi dan batuk. Namun asma biasanya ditemukan pada usia muda (<40 tahun), gejala bervariasi, dan memberat pada malam/ pagi hari, biasanya ada riwayat alergi pada pasien atau keluarga, ada rinitis alergi (bersin dan beringus akibat alergi), dan kadamg disertai obesitas. Sedangkan PPOK biasanya ditemukan pada usia lebih tua (>40 tahun) dengan gejala respirasi perlahan tapi progresif (makin lama makin memberat) dan persisten (terus menerus), serta ada riwayat merokok dan atau terpapar oleh gas/asap berbahaya.
     PPOK menyebabkan gejala respirasi berupa sesak napas, batuk dan produksi sputum yang menetap dan progresif. Tidak ada obat yang dapat menyembuhkan PPOK. Diagnosis dan pengobatan sedini mungkin, termasuk dukungan berhenti merokok, diperlukan untuk memperlambat perkembangan gejala dan mengurangi kekambuhan.

Artikel dan Berita Lain

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *